Pemerintah Desa Barangka Mengucapkan Selamat Tahun Baru 2021 M .:. AyoKeBarangka .:.

Artikel

Mete, Ada Apa Denganmu; Bagian II

30 Maret 2018 21:17:24  Administrator  332 Kali Dibaca  Berita Desa

Baik, kita lanjutkan coretannya. Bagi rekan-rekan yang belum membaca tulisan sebelumnya, bisa mengaksesnya DISINI, bagi yang sudah baca, ok kita lanjut ke renungan berikutnya yaitu musim yang sering dijadikan sebagai penyebab utama.

  1. Musim

Nah ini yang seru karena dari gagal panen jambu mete tiga musim belakangan yang banyak dibicarakan adalah faktor musim ini. Seperti disebutkan sebelumnya bahwa terjadinya gagal panen karena saat jambu mete mulai berbunga, dibarengi dengan tingginya (intensitas) curah hujan, sehingga bunga jambu mete menghitam dan mengering. Baiklah coba kita intip sedikit karakter musim yang ada di pulau Buton.    

Berbicara musim dari dulu sampai sekarang di Indonesia hanya dikenal 2 musim yaitu musim Penghujan dan musim Kemarau. Musim hujan untuk sebagian besar Indonesia terjadi di bulan September sampai Maret dan musim kemarau dari Maret atau Juni (tergantung daerah) sampai September. Kalau berdasarkan data perkiraan dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), untuk tahun 2018, musim kemarau di sejumlah wilayah zona musim mulai akhir Maret dan April, namun umumnya sebagian besar zona musim di Indonesia, kemarau akan mulai di bulan Mei 2018 di 121 zona musim atau 35,4ri total 342 zona musim yang ada di Indonesia. Pulau Buton sendiri yang masuk zona musim 315, awal musim kemarau diperkirakan pada bulan Juni minggu kedua dan rataannya tidak ada perbedaan dengan tahun 2017 kemarin (sama). Sifat curah hujan pada rentang waktu kemarau tersebut adalah di atas normal. Jika anda membaca uraian singkat ini, mungkin anda mengira saya pakar klimatologi, padahal kasiaan...saya cuma kata-kata-i data yang dikeluarkan BMKG, dan anda sendiri bisa lihat WEBSITE-nya atau lihat data yang dirilis DISINI.

Apa yang bisa kita maknai dari Informasi di atas?

Pertama, Informasi siklus musim untuk Pulau Buton praktis tidak ada perbedaan dengan siklus musim tahun 2017, baik mulai masuknya musim kemarau maupun sifat hujan di musim tersebut. Artinya bahwa perkiraan musim tahun 2018 ini kurang lebih sama dengan musim tahun kemarin (2017). Bagaimana hubungannya dengan musim berbunga/berbuah jambu mete. Berdasarkan disikusi dengan sejumlah masyarakat, awal mulai berbunga jambu mete sebagian ada yang sudah muncul di akhir April atau awal Mei, tetapi secara umum merata di semua kebun mete adalah akhir bulan Juni sampai Juli. Pada rentang bulan inilah masa kritis itu terjadi karena secara bersamaan dibarengi dengan intensitas hujan yang tinggi, padahal bulan tersebut sudah masuk musim kemarau untuk pulau Buton.

Kedua, Jika perkiraan musim tahun 2018 ini sama dengan 2017 lalu, mungkin kita akan berpraduga “wah kemungkinan kejadian seperti tahun 2017 akan terjadi lagi di tahun 2018 ini”. Beberapa hal yang ingin saya utarakan berhubungan dengan masalah ini adalah:

Data perkiraan musim dari BMKG itu adalah data ilmiah dan hasil analisis tersebut merupakan akumulasi dari data berulang 30 tahun terakhir sehingga tingkat akurasi/ketepatannya dapat dipertanggung jawabkan. Tetapi satu hal yang juga tidak boleh di abaikan bahwa peristiwa 1 menit, 1 jam, 1 hari atau 1 bulan ke depan dan seterusnya tidak satu manusia pun yang tahu apa yang terjadi termasuk hal yang sedang kita permasalahkan ini. Mungkin anda mengira saya membantah data dari BMKG ini. Tentu saja tidak sama sekali, mereka saja dalam merilis informasi cuaca walaupun didukung dengan data-data akurat, selalu disertai dengan kata “Prakiraan”. Perhatikan saja saat anda menonton berita dan kebetulan yang disuguhkan adalah informasi cuaca di sejumlah daerah, maka kata “Prakiraan” selalu diikutsertakan. Mengapa? Karena sesuatu yang pasti hanya milik Allah Swt, sedangkan manusia hanya memprediksi berdasarkan data-data pendukung yang diperoleh. Tetapi intinya bukan itu, yang ingin saya sampaikan pada point ini adalah, jangan karena informasi ini membuat kita menjadi pesimis sehingga terkesan asal-asalan dalam pengelolaan area mete kita.

Musim sudah menjadi semacam hukum alam atau (sunatullah) yang memang begitu adanya, kita tidak bisa mengatur musim, yang bisa kita lakukan adalah menyesuaikan diri dengan musim yang ada dengan melakukan hal-hal yang berbeda dari sebelumnya. Contoh: Jika selama ini dalam pengelolaan area jambu mete hanya dilakukan menjelang berbunga dan kenyataannya selalu mengalami gagal panen dalam 3 tahun terakhir ketika menghadapi musim yang ekstrim dengan siklus yang sama, maka diperlukan strategi yang berbeda atau lebih dalam pengelolaannya maupun usaha-usaha lain yang memberikan daya tahan (sistem imun) lebih pada tanaman jambu mete kita dalam menghadapi musim tersebut. Terkait siklus musim ini, kita semua menjadi saksi hidup termasuk saya, sebelum penggunaan racun rumput untuk membersihkan lahan jambu, secara berkala kita membakar serasah (kolitoto)nya jambu di bawah pohon jambu dengan maksud semacam diasapi (ne fowono o kaowu umbo dhambu a) dan cara-cara alami lainnya, setahu saya dulu walaupun ada musim ekstrim seperti yang dikeluhkan 3 tahun terakhir, kita tetap memetik jambu. Jadi sepertinya ada sesuatu yang salah dalam hal ini….coba kita diam dan merenung dulu sejenak untuk hal ini….neento baha ka miina?

Sebagian orang mungkin akan menyanggah pernyataan terakhir ini “….itu kan dulu, beda dengan sekarang”. Okelah… area jambu mete kita mungkin sudah tidak sesubur tahun 80-an, atau 90-an. Oleh karena itu diperlukan usaha-usaha yang lebih dibanding dulu, entah dengan pemupukan ataupun berupaya agar tanah di sekitar area jambu mete ditingkatkan kualitasnya dengan asupan bahan organik dan upaya-upaya lainnya. Intinya kita tidak bisa lagi membiarkan tanaman jambu mete kita sendirian mengandalkan “sistem alam” yang bekerja untuk bertahan hidup dan kita tinggal menunggu waktu berbuah dan panen. Campur tangan kita yang “lebih” dari sekedar mengandalkan sistem alam sangat diperlukan untuk memperoleh hasil yang diharapkan.

Saya akan ceritakan salah satu contoh study kasus warga kita di Desa Barangka. Saya penasaran dengan cerita orang-orang, karena ketika kebanyakan masyarakat di Barangka mengalami gagal panen, beliau di tiga tahun terakhir ini justru menikmati panen jambunya. Ada apa dengan dia, dan melakukan apa saja sampai bisa panen, apakah lahan jambunya tersendiri? dan masih banyak aspek penasaran lainnya. Beliau bernama Bpk La Saari, pasti masyarakat Barangka kenal beliau to.. !!. Akhir tahun 2017 saya sempat diskusi dengan beliau untuk menuntaskan penasaran/keingintahuan saya tentang rahasianya. Secara umum saya merangkumnya sebagai berikut: Garis besarnya adalah “Beliau membangun Chemistry (hubungan/kecocokan) dengan tanaman jambunya” kira-kira itu kesimpulan saya, apa saja yang dilakukan untuk membangun chemistry tersebut? Ketika musim berbuah telah berakhir, umumnya orang akan “meninggalkan” perkebunan metenya, lain halnya dengan bapak La Saari ini, beliau justru melakukan pembenahan di lahan metenya, melakukan penyiangan dan pembersihan berkala, melakukan pengamatan empirik pada setiap perubahan tanaman metenya seperti ketika daun-daun tua mulai berguguran, munculnya tunas/pucuk baru, saat berbunga, sampai saat berbuah, melakukan peng-asap-an berkala di bawah area mete-nya ketika beliau merasakan/melihat area tersebut “lembab” dan kegiatan lainnya di area tersebut sampai menjelang musim berbunga akan tiba. Kegiatan dan pengamatannya ini sudah dilakukan bertahun-tahun sehingga “karakter” (walaupun istilah ini tidak cocok digunakan untuk tanaman) mete-nya dia tahu persis.

Inilah yang saya maksud beliau “membangun chemistry” dengan tanaman mete-nya. Yang terjadi kemudian adalah ketika kebanyakan orang mulai berbondong-bondong membersihkan lahan jambu mete-nya karena musim berbunga-berbuah sudah dekat, baik dilakukan pakai “racun rumput” atau “de hasu” ataupun penyiangan secara alamih, Bapak La Saari justru sebaliknya sudah tidak melakukan hal tersebut karena area jambu metenya sudah bersih termasuk aspek lainnya, sampai saya berguman dalam hati “Kalau tanaman mete-nya ibarat atlit, ketika yang lain sedang memulai latihan, yang satu ini malah sudah siap bertanding” termasuk menghadapi musim yang ekstrim yang menyebabkan gagal panen….hehehe….seperti cerita novel saja di..!!!.

Begitulah kira-kira inti cerita saya dengan beliau. Kesimpulan yang saya ambil dari cerita beliau bahwa musim yang ektrem yang banyak diindikasikan sebagai faktor yang menyebabkan gagal panen ternyata beliau bisa mensiasatinya dengan istilah saya tadi “membangun chemistry” dengan tanaman.

Ketiga; Musim adalah sudah merupakan hukum alam yang telah ditetapkan oleh Allah SWT. Kita harus lebih hati-hati pada urusan ini. Entah disadari atau tidak, ketika musim (hujan) selalu dijadikan sebagai sebab utama gagal panen, maka hal ini bisa membawa kita pada sifat “su’u zhon” kepada Allah SWT dan ini merupakan sebuah malapetaka besar. Yang mesti kita lakukan adalah banyak mendekatkan/menyandarkan diri dan berdoa sepenuhnya hanya kepada Allah swt. Dia-lah yang memiliki dan mengatur segalanya termasuk mendatangkan kondisi musim pada 3 siklus musim jambu mete yang telah berlalu. Renungannya tetap berprasangka baik pada Allah SWT, kita tidak tahu rahasia dibalik semua ini. Baik dimata kita bukan jaminan baik di hadapan Allah swt, begitu juga sebaliknya jadi "positif thingking" saja. Pasae cumeramanoa lae…

  1. Harus Lebih Menundukan Diri Lagi Kepada Sang Khalik

"Tahun ini kita akan panen dolar" atau "dae panen toha dolar tau no aynia" adalah sejumlah kalimat yang sempat saya dengar bertepatan dengan perkebunan jambu masyarakat sudah berbunga lebat hampir seluruh permukaan tajuk pohon mete. Ini adalah sebuah luapan kegembiraan dan harapan masyarakat untuk mendapatkan penghasilan dari komoditi andalan ini. Tetapi disadari atau tidak, menurut saya kalimat ini ada sedikit bibit kesombongan di dalamnya (do kalogo-logo) (yang pernah diskusi dengan saya dan membaca tulisan ini, saya mohon maaf). Hal terbaik yang mestinya kita lakukan adalah lebih banyak menggantungkan harapan dan doa (do fekantuhue do batata a) kepada Allah SWT agar apa yang terlihat saat pohon mete berbunga dapat terus bertahan sampai terlihat buah dan biji yang siap panen. Walaupun tidak serupa, berikut ini ada kisah di dalam Al-Qur'an yaitu di surat Al-Kahfi ayat 32-44 terkait dengan sifat angkuh dan sombong dalam hal berkebun atau bisa BACA DISINI. Semoga kita selalu menjadi hamba-hamba yang terus bersyukur dan dijauhkan dari sifat angkuh. Ceramamo dua yi i noa yinia....

Sepertinya kita harus ngopi dulu di.., supaya konsent juga bacanya.

Nanti pada bagian akhir tulisan ini, kita akan mengulas upaya pemerintah desa atas kegalauan yang dihadapi masyarakat.

 

Kirim Komentar


Nama
No. Hp
Isi Pesan
  CAPTCHA Image [ Ganti gambar ]
  Isikan kode di gambar
 


Layanan Mandiri

    Silakan datang atau hubungi operator desa untuk mendapatkan kode PIN Anda.

Temukan Kami Di Facebook

Arsip Artikel

Aparatur Desa

Wilayah Desa

Lokasi Kantor Desa


Kantor Desa
Alamat : Jl. Poros Kapontori,
Desa : Barangka
Kecamatan : Kapontori
Kabupaten : Buton
Kodepos : 93755
Telepon : 085341926998
Email : admin@barangka.com

Peta Desa

Sinergi Program

Arsip Video




Statistik Penduduk

Komentar Terkini

Statistik Pengunjung

  • Hari ini:344
    Kemarin:1.385
    Total Pengunjung:457.002
    Sistem Operasi:Unknown Platform
    IP Address:3.236.117.38
    Browser:Tidak ditemukan

Info Media Sosial