Artikel

Mete, Ada Apa Denganmu; Bagian I

27 Maret 2018 09:11:52 Administrator Berita Desa

Barangka.com - Tiga tahun terakhir di desaku Barangka dan mungkin desa-desa lainnya di Buton sedang galau karena pada rentang waktu tersebut komoditi andalan mereka yaitu jambu mete selalu mengalami gagal panen. Banyak diskusi yang muncul dari peristiwa ini, mulai dari diskusi yang sesuai fakta kegagalan panen sampai yang agak sulit di nalar oleh akal, tetapi itu wajar jika muncul di masyarakat. Dua hal yang sering saya dengar di masyarakat terkait fenomena ini adalah faktor musim atau yang keren di masyarakat mereka bilang "cuaca" dan hal lainnya adalah sesuatu yang membutuhkan nalar/pikiran tingkat tinggi dan lebih filosofi yaitu terkait dengan "kepemimpinan" atau "Meintahano/meowano liwu".

Kedua hal di atas yang lebih dominan saya dengar adalah faktor cuaca atau lebih tepatnya musim, faktor ini berdasarkan atas pengalaman masyarakat 3 tahun terakhir bahwa ketika jambu mulai berbunga, di iringi dengan intensitas hujan yang tinggi dan durasi yang lama. Akibatnya bunga jambu mete menjadi "menghitam" dan mengering. Sudah bisa ditebak, gagal panen sudah di depan mata. Sedangkan yang kedua adalah terkait dengan "kepemimpinan". Sejak masa kecil, informasi mengaitkan aspek kepemimpinan atau meintahano liwu dengan suatu kejadian "Luar Biasa" yang bermakna atau di konotasikan dengan sesuatu yang kurang baik berupa "keresahan, musibah/kapalei, wabah, ketakutan, kekhawatiran" dan istilah lain yang semakna dengan itu sudah sering saya dengar dan yang terbaru adalah terkait dengan masalah gagal panen jambu mete 3 tahun terakhir ini. Namun jarang saya mendengar kecuali sedikit aspek kepemimpinan ini dikaitkan dengan suatu capaian keberhasilan pemimpin dalam kepemimpinannya. Belakangan ini fenomena "demam" mengidolakan pemimpin yang memiliki prestasi muncul di permukaan. Sebutlah tokoh nasional yang di kenal dengan akronimnya "TGB" karena keberhasilannya memimpin Nusa Tenggara Barat dan atau figur-figur lainnya di tingkat Nasional. Hal ini bisa menjadi cermin bagi kalangan masyarakat dalam cakupan yang lebih kecil, agar hal tersebut menjadi informasi penyeimbang dalam menghubungkan "Faktor kepemimpinan" dengan suatu "Kejadian luarbiasa" yang umum berkembang lama di masyarakat dengan "kejadian luarbiasa" lainnya yang baru saja saya utarakan. Agak sedikit krodit kalimatnya, tetapi nanti juga anda akan paham. hehehe... PD skali ya...

Ok...Lanjut...Beberapa hasil diskusi dengan masyarakat yang menyinggung faktor kepemimpinan ini, pada akhirnya mereka menyimpulkannya sendiri tanpa arahan atau saya pengaruhi bahwa faktor ini kemungkinannya kecil, mengingat fenomena gagal panen ini bukan hanya terjadi di Barangka saja tetapi meluas sampai di sejumlah wilayah lain di Buton. namun saya penasaran ketika saya tanyakan jika sekiranya faktor "kepemimpinan" ini dalam cakupan yang lebih luas misalnya setingkat kecamatan yang membawahi sejumlah desa, atau yang lebih tinggi lagi dari itu, mereka tidak menjawabnya. yah sudahlah....

Saya bukan ahli dibidang pertanian dan terlebih khusus lagi tanaman perkebunan seperti halnya jambu mete, sehingga sayapun tidak banyak memberikan solusi jitu terkait yang dihadapi masyarakat saat ini. Namun sejumlah hal di bawah ini patut untuk kita jadikan renungan bersama khususnya di desa Barangka.

1. Kurangi atau bahkan hentikan penggunaan racun rumput.

Beberapa tahun terakhir ini masyarakat Barangka sedang demam dengan penggunaan herbisida atau racun rumput untuk membersihkan lahan perkebunan mete-nya. kalimat "Pae monia mehasua?" atau "amoni ae hasu toha" adalah dua kalimat tanya dan jawaban masyarakat yang arahnya sudah jelas yaitu aktivitas untuk membasmi gulma menggunakan racun rumput (herbisida) di lahan perkebunan mete-nya. Alasannya sederhana yaitu lebih praktis, tidak capek, tidak butuh tenaga kerja yang banyak, dan hasilnya terlihat jelas dimana lahan perkebunan jadi bersih. Tetapi mari saya mengajak kita semua untuk merenung tentang "Racun" atau "Hasu" ini. Racun adalah Zat (Padat, cair atau gas) yang menyebabkan sakit atau kematian jika terpapar atau terserap oleh mahluk hidup. Maaf sebelumnya, mungkin masyarakat hanya mengetahui bahwa gulma atau rumput penggangu setelah di beri racun rumput akan mati dan masalah selesai, tetapi mari kita buka mata dan hati bahwa itu adalah baru permulaan saja. Ketika kita meracuni rumput di lahan perkebunan apalagi dilakukan secara berkala, maka tidak semua senyawa racun di perkebunan kita akan menguap atau terurai tetapi banyak sisa (residu) racun yang mengendap di dalam tanah dan itu artinya sisa racun tersebut masih berstatus racun di dalam tanah dan berpotensi menjadi bom waktu bagi kerusakan lingkungan.

Uraian saya berikut ini mungkin terlalu ilmiah. Okelah....saya berusaha untuk sederhanakan karena masyarakat mesti ketahui bahwa ketika racun mengendap atau menjadi residu di dalam tanah maka sejumlah mahluk hidup di dalam tanah seperti cacing, berbagai jenis bakteri, jamur dan masih banyak lagi jenis mahluk hidup yang hidup di area tersebut akan terganggu atau bahkan mati/musnah. Padahal mahluk hidup tersebut mempunyai peran besar terhadap proses pembusukan/penguraian senyawa organik seperti serasah (kolitoto) dan bahan organik lainnya dan diurai menjadi senyawa anorganik yang siap untuk diserap oleh tanaman, menggemburkan tanah, sehingga tanah memiliki pori pori yang memudahkan pertukaran/sirkulasi udara bagi mahluk hidup di dalam tanah serta memaksimalkan penyerapan air permukaan, semua proses-proses tersebut menjadi sejumlah faktor yang berperan untuk mempertahankan kesuburan tanah. Senyawa organik ini saya umpamakan seperti butiran beras yang belum bisa di makan oleh manusia sebelum dimasak menjadi nasi (senyawa an organik). Proses butiran beras menjadi nasi ini adalah perumpamaan dari peran mahluk hidup yang saya sebutkan di atas dalam mengubah senyawa organik menjadi anorganik, dan masih banyak peran lainnya yang tidak saya sampaikan dalam coretan ini.

Bayangkan jika proses alami ini terganggu, maka area perkebunan jambu mete masyarakat berpotensi miskin hara. Hal ini ditambah lagi dengan kebiasaan masyarakat melakukan perawatan seadanya minimal pembersihan menjelang musim berbunga. Selebihnya mengandalkan "sistem kerja alam" dalam satu kali musim berbuah pada tanaman mete tersebut tanpa melakukan perawatan intensif seperti pemupukan, atau pembersihan/penyiangan berkala. Faktor-faktor ini semakin melengkapi "penderitaan" tanaman perkebunan mete. Setidaknya itu yang saya ketahui sampai saat ini, mohon koreksi di kolom komentar jika saya keliru.

Selain mengganggu proses-proses alamiah seperti disebutkan di atas, residu pestisida juga berpotensi dapat terserap oleh tanaman perkebunan kita, dan biasanya residu tersebut mengendap di buah, umbi atau biji. Itu artinya jika biji mete yang dihasilkan ingin menjadi komoditas ekspor seperti cita-cita awal pembentukan BUMDes desa Barangka, maka komoditi/produk yang dihasilkan semestinya harus bebas dari senyawa kimia berbahaya ini. Namun jika hal sebaliknya terjadi dimana mete yang dihasilkan mengandung residu senyawa kimia berbahaya maka sudah dipastikan produk tersebut akan di tolak oleh pasar dan itu artinya petani dan seluruh mata rantai produksinya sangat dirugikan. contoh kasus bisa anda baca DISINI. Banyak artikel atau sumber bacaan yang menganjurkan untuk mengurangi atau menghentikan penggunaan herbisida, karena pemakaian yang terus menerus dalam jangka waktu yang lama berpengaruh terhadap penurunan kualitas lingkungan. Jika belum yakin juga yah...silahkan buka google kemudian ketik kata kunci "bahaya racun rumput" atau "bahaya herbisida" maka akan muncul berbagai informasi terkait dengan bahaya racun rumput tersebut. Oleh karena itu mengurangi atau bahkan menghentikan penggunaan racun rumput menjadi sebuah renungan penting bagi kita dalam mengelolah area perkebunan mete kita. Tetapi kembali lagi itu adalah pilihan, saya hanya menuangkan hasil renungan saya disini.

2. Perlu Peremajaan atau pemangkasan/penjarangan

Pengelolaan perkebunan mete oleh masyarakat harus lebih intensif lagi. tulisan ini saya membahas tentang perlunya pemangkasan atau bila perlu peremajaan karena setahu saya saat ini rata-rata masyarakat di Desa Barangka tidak lagi membuka lahan baru perkebunan jambu mete, tetapi mengelolah perkebunan yang telah memiliki tanaman jambu mete sebelumnya. jika kita membaca buku yang membahas tentang budidaya jambu mete, salah satu yang dibahas adalah terkait dengan jarak tanam. Ukuran minimal jarak tanam adalah 4-6 m dalam baris dan 10-12m untuk jarak antar baris. Dengan jarak tersebut, dalam jangka 8-10 tahun biasanya tajuk tanaman sudah saling menimpah itu artinya bahwa perlu dilakukan pemangkasan.

Mengapa hal ini perlu dilakukan? karena salah satu ciri tanaman jambu mete adalah suka dengan banyaknya paparan sinar matahari. sebaliknya jambu mete tidak tumbuh bagus pada bagian yang saling menimpah atau di tempat yang teduh karena ada naungan pohon mete lain atau jenis pohon lain. Oleh karena itu pada umur tersebut sudah selayaknya tajuk yang saling menimpah dilakukan pemangkasan/penjarangan. Hal ini dimaksudkan agar seluruh bagian tanaman jambu mete (keliling bagian samping) dan bagian tajuk atas mendapatkan sinar matahari penuh. Kondisi ini berpengaruh pada proses fotosintesis yang maksimal. Pada saat tanaman tidak dalam fase berbunga-buah, hasil fotosintesis ini digunakan untuk sumber energi, proses pertumbuhan seperti tumbuh tunas, mengganti sel-sel rusak dan sebagai persiapan menjelang fase berbunga-berbuah. Tetapi ketika tanaman memasuki masa berbunga-berbuah atau diistilahkan dengan fase generatif, maka tumbuhan mem-fokuskan hasil fotosintesis tersebut dialokasikan untuk pembentukan buah dan biji, atau umbi jika tanaman berumbi. Inilah rahasia/strategi tumbuhan untuk melestarikan diri. Demi untuk menghasilkan buah (terutama biji sebagai calon generasi baru) hasil fotosintesis diarahkan untuk itu. Makanya coba perhatikan tanaman yang sedang berbunga-berbuah jarang atau bahkan tidak ada proses tumbuhnya tunas baru (itu perkiraan/asumsi saya saja). Jadi jangan mengira manusia saja yang punya strategi pelestarian keturunan ya (Tumbuhan dan seluruh mahluk juga punya caranya masing2) hanya luput dari pengamatan kita saja.

Ok, Kembali ke laptop....dari cerita panjang x lebar ini tentu kita semua sudah bisa menarik kesimpulan, bahwa bagian yang terkena matahari penuh saja yang pertumbuhan tajuknya bagus sedangkan tanaman atau bagian tanaman jambu mete yang ternaungi pertumbuhannya akan terhambat atau bahkan mengering itu artinya ketika fase berbunga-buah tiba, tajuk yang terpapar matahari penuh berpotensi untuk menghasilkan buah, itupun tidak menjamin ketika lahan tempat tumbuh jambu mete tersebut tidak menyuplai hara dan air yang cukup (Renungkan kembali faktor pertama di atas). Manfaat lain proses pemangkasan/penjarangan ini adalah sinar matahari akan semakin besar intensitasnya sampai ke tanah, dan hal tersebut penting artinya bagi aktivitas mahluk hidup (organisme) di dalam tanah (kembali lagi renungkan faktor pertama. hehehe....do po kai-kai lae).

Selain Pemangkasan/penjarangan, hal yang bisa dilakukan lagi dalam rangka untuk meningkatkan produksi jambu mete adalah "Peremajaan" tanaman jambu mete. Ketika akhir Desember 2017 sampai Awal tahun 2018 kemarin saya sempat menelusuri sejumlah ruas jalan tani di Barangka. Beberapa Kawasan perkebunan/pertanian yang namanya masih melekat di ingatan saya adalah "Lembo", "Pimpi", "Kambaaha" dan "kalende" perubahan yang ada saat ini dibanding masa kecil/remaja adalah hampir sempanjang kiri kanan ruang jalan tani, saya ibarat tenggelan dalam hamparan hutan jambu mete. Dengan umur saya yang tidak muda lagi (40 tahun), maka saya bisa perkirakan bahwa hutan jambu mete yang saya lewati tersebut sudah berumur antara 20-30 tahun atau bahkan banyak yang sudah lebih dari kisaran tersebut. Umur produktif jambu mete antara 20-30 tahun, setelah itu akan mengalami penurunan produksi. Nah...bagi masyarakat yang memiliki area perkebunan jambu mete dan membaca coretan ini coba hitung kembali sudah berapa lama tanaman mete di area tersebut. atau jika sayang dengan masalah umur tanaman, coba ditinjau kembali produksi pertahunnya apakah mengalami kenaikan, stabil atau meningkat?. Jika telah sampai atau melewati umur produksi atau produksinya menurun, perlu dipikirkan untuk dilakukan peremajaan dengan tanaman jambu mete yang lebih fresh. Pergantian tanaman dapat di lakukan secara bertahap. Tidak mesti dilakukan peremajaan serentak karena tanaman jambu mete muda diperlukan waktu 3-4 tahun untuk mulai "belajar" berbuah.

Lantas hal apalagi yang perlu kita renungkan? dan langkah-langkah apa yang telah dan akan dibuat oleh pemerintah desa untuk keluar dari kegalauan ini? nanti kita lanjutkan lagi pada bagian kedua dari coretan ini.....ayo kita ngopi dulu...

(Kontributor: La jeni)

Tinggalkan Pesan


Nama
No. Hp
Isi Pesan
  CAPTCHA Image [ Ganti gambar ]
  Isikan kode di gambar
 


Temukan Kami Di Facebook

Layanan E - LAPOR

    Silakan datang atau hubungi operator desa untuk mendapatkan kode PIN Anda.

Aparatur Desa

Wilayah Desa

Agenda

Lokasi Kantor Desa

Alamat Jl. Poros Kapontori, Kode Pos 93755, Laman: https://barangka.com
Desa Barangka
Kecamatan Kapontori
Kabupaten Buton
Kodepos 93755
Telepon +085341926998
Email

Peta Desa

Sinergi Program

Arsip Video




Statistik Penduduk

LAKI-LAKI
0 Jiwa 
PEREMPUAN
0 Jiwa 

Tinggalkan Pesan

Statistik Pengunjung

Hari ini
Kemarin
Jumlah Pengunjung

Info Media Sosial